Cari Blog Ini

Rabu, 28 Februari 2018

Mono, Lara

Ordinary Cafe, 14 April 2015, 20:47 WIB.

Keduanya duduk berhadapan namun tak saling memandang. Mungkin dunia terlalu sibuk saat itu, hingga mereka tak mau membuatnya semakin lelah. Maka mereka hanya diam, hanya memperhatikan lampu-lampu yg tergelar di setiap sisi, kendaraan yang tak henti berlalu lalang, dan manusia lain yang diberi gelar paling berkontibusi menyibukkan si Dunia. 

Tak tahan dengan diam, wanita itu mulai berceloteh

"Pernah tidak kamu berfikir kalau foto adalah salah satu cara menghentikan waktu? Aku dan siapapun bisa mengabadikan satu momen untuk dimiliki selamanya."

"Selamanya terlalu lama. Satu atau dua tahun saja sudah..."

"Makanya, dua tahun ini akan ku abadikan" potong wanita itu dengan nada optimis yang sangat dipaksakan.

"Satu atau dua tahun saja sudah melelahkan putri. Kau tidak benar mengerti arti abadi kan?"

"Kenapa tidak coba mencari tau seberapa lama 'abadi' itu sama-sama?"


Selasa, 20 Februari 2018

Dear, Romeo

Sejak saat itu, aku telah belajar bahwa mencintaimu adalah sumber bahaya. Namun tentu saja aku tetap bertahan. Bagaimana tidak? Jika luka yang kudapat darimu adalah defibrilator bagiku. Bisa saja aku berpaling bahkan saat masih di sampingmu mengingat kau yang bahkan tak pernah melihat kearahku, ke arah wanita yang berjalan mendampingimu.

Romeo, jika kau berkenan mengenang masalalu aku ingin menanyakan beberapa hal. Tidak. Mungkin banyak hal. Tulisan ini adalah luapan dari ketidakmengertianku dengan pilihanmu. Kuberikan list panjang, pilihan tak terbatas dan jawaban yang tidak bisa salah. Aku tau, jika kamu membaca ini kamu akan menertawakanku. Tak apa. Toh aku tak mendengarnya.

PENDAHULUAN

Latar Belakang


Pemanenan merupakan kegiatan mengeluarkan hasil hutan berupa kayu maupun non kayu dari dalam hutan. Menurut Suparto (1979) pemanenan hasil hutan adalah serangkaian kegiatan kehutanan yang mengubaha pohon atau biomassa lain menjadi bentuk yang bisa dipindahkan ke lokasi lain sehingga bermanfaat bagi kehidupan ekonomi dan kebudayaan masyarakat. Soedjarwo (1975) dalam Natadiwirja et al(1976) menyatakan kegiatan pemanenan kayu bertujuan memanfaatkan sumberdaya alam bagi kesejahteraan manusia berdasarkan prinsip kelestarian. Kegiatan pemanenan merupakan kegiatan yang paling rawan terhadap kerusakan lingkungan, sehingga perlu dipelajari ilmu-ilmu yang mampu mengurangi dampak dari kegiatan pemanenan hutan. Tahapan kegiatan pemanena kayu khususnya di hutan hujan tropika meliputi tahapan perencanaan, pembukaan wilayah hutan (PWH), penebangan, penyaradan, pengangkutan dan penimbunan akhir (Nasution 2009).

Selasa, 18 Oktober 2016

Aku ingin menjadi hujan

"Lalu mengapa? Jika yg dinanti tak kian datang. Pilihan ada di tangan mu. ingin berhenti, berhenti saja. Ingin menunggu siapkan diri untuk rasa sakitnya" katamu malam itu.
Kau kembali melihat jalanan yg pasrah terguyur ribuan hujan lalu mengusap percikan hujan di wajahmu. Sedang aku menatapmu memperhatikan semua gerak gerikmu. Bagaimana tempias hujan begitu mudah menyentuh mu.
"Seketika aku ingin menjadi hujan" kataku sembari tersenyum menatap mu.
Kau berbalik menghadapku dengan tatapan penuh selidik, penuh tanya namun tak kau ucap sepatah kata. "menghilanglah" lanjutmu. Seperti kilat yg menyambar kata itu keluar tanpa permisi.
Aku menatapmu lekat tak tau bagaimana raut yg ku buat. Bibirmu sibuk bergerak. Namun tak ada yg mampu ku dengar. Riuh hujan lebih menarik telingaku memenuhi pendengaran ku. Entah karena telingaku lelah mendengar alasan logismu atau memang hujan malam itu begitu merdu.
Kau menggenggam tanganku meletakkannya di dadamu. Bibirmu masih sibuk mengatup dan terbuka yg harusnya mengeluarkan suara suara yg mampu ku cerna. Dahimu mengerut, matamu menyipit. Sepertinya kau sedang menyampaikan hal serius. Aku hanya tersenyum, tak mengerti apa yg kau lakukan tak mendengar apa yg kau katakan.
Kau melepas tanganku dan berbalik. Kau mengangkat tangan dan mengusap sesuatu di wajahmu. Apa kau sedang menangis? Atau tempias hujan sangat mengganggumu.
Aku ingin tau, tapi aku tak bisa mendengarmu. Sejauh ini aku tak ingin pergi, tapi kali ini sepertinya aku tak sanggup melihatmu begitu, aku tak mampu mendengar apa yg kau ucap.
"Baiklah, aku pergi" kataku masih dengan senyum yg kini memperlihatkan susunan pagar putih di balik bibirku. Aku berjalan menjauh, angin seketika terlalu dingin.
Aku menoleh kearahmu. Kau masih membatu membelakangiku. Kau mengangkat tangan mu ke arah wajahmu. Lagi. Kali ini lebih lama. Diamku memuncak tak sanggup menahan tanya.
"Bahkan kini hujan tak bisa menggapaimu?"
Kau berjalan tergesa, berlari sampai kau menghilang dan aku masih disini menikmati hujan.

Selasa, 30 Agustus 2016

Jejak badai

Badai kemarin meninggalkan jejak di bumi. Entah ia ingin sekedar diingat atau ditakuti. Namun satu hal pasti, buih yg melewati badai terlihat semakin suci.

Ditempah dengan riuh angin dan goncang hujan, mahkluk bumi merdeka dengan datangnya sinar mentari. Memberi jejak badai keindahan yang membuat pemiliknya bangga dengan badai yg mampu ia lewati.